Jumat, 22 November 2013

PERAN PARTISIPASI PEMUDA DALAM MEWUJUDKAN KEEFEKTIFAN SISTEM MULTI PARTAI DAN PEMILU

PERAN PARTISIPASI PEMUDA DALAM MEWUJUDKAN KEEFEKTIFAN  SISTEM MULTI PARTAI DAN PEMILU

A. Latar Belakang

Gerakan reformasi mengalami klimaks di tahun 1998 yang ditandai dengan mundurnya Soeharto dari jabatan presiden memiliki arti yang sangat besar bagi perjalanan bangsa Indonesia. Rezim otoriter yang menguasai negara ini hingga tiga dasawarsa akhirnya tumbang akibat desakan rakyat yang dibangkitkan lewat gerakan mahasiswa. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa golongan muda (pemuda) memiliki peran yang sangat penting dalam setiap perubahan yang mewarnai negeri ini. Dimulai pada tahun 1908 yang ditandai dengan berdirinya Budi Utomo yang merupakan tonggak awal peran pemuda dalam mengawal perubahan bangsa, hingga pada tahun 1998 lewat gerakan mahasiswa, di mana golongan pemuda kembali mempersembahkan perubahan negeri ini lewat momentum reformasi yang sejalan mengarahkan bangsa ini pada episode baru kehidupan berdemokrasi.

Diselenggarakannya pemilihan umum pada tahun 1999 yang melibatkan tidak kurang dari 48 partai politik menjadi pertanda kembali dimulainya era demokrasi yang sesungguhnya. Pertumbuhan partai politik di era reformasi yang luar biasa cepat, pada kenyataannya tidak dibarengi oleh kualitas partai politik yang mumpuni. Kemunculan banyak partai dalam pemilu 1999 dan 2004 ternyata tidak serta merta membuka kesempatan bagi pemuda untuk mengambil peran lebih banyak dalam gelanggang kepemimpinan nasional. Kursi kepemimpinan baik di daerah maupun nasional diduduki oleh tokoh-tokoh yang sudah lama berkecimpung di dunia perpolitikan nasional. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri ada beberapa tokoh muda yang berhasil mengisi beberapa pos kepemimpinan nasional.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sistem multi partai yang ada sekarang belum mampu secara efektif dimanfaatkan sebagai sebuah peluang besar bagi pemuda untuk mentransformasi perannya. Salah satu sebab kurang optimalnya peran pemuda di era multipartai adalah kurang dijadikannya pemilu 1999 dan 2004 sebagai momentum untuk tampilnya pemuda atau mahasiswa pada pergerakan nasional. Meskipun ada pemuda yang masuk ke dalam parlemen hal itu justru dipandang banyak kalangan sebagai bentuk keterlenaan dan kelupaan pemuda pada perjuangan reformasi.



B. Inti
Berdasar uraian diatas maka diperlukan telaah kritis mengenai  partisipasi politik pemuda dalam mewujudkan efektivitas sistem multi partai, hal tersebut sangat penting mengingat upaya tersebut mendesak untuk dilakukan di tengah derasnya isu kepemimpinan kaum muda dalam paradigm masa depan Indonesia. Telaah kritis ini merupakan upaya dalam memberikan wacana baru bagi perkembangan dunia demokrasi di Indonesia.
Pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam setiap perubahan yang mewarnai negeri ini. Dimulai pada tahun 1908 berdirinya Budi Utomo, hingga pada tahun 1998 lewat gerakan mahasiswa, di mana golongan pemuda kembali mempersembahkan perubahan negeri ini lewat gerakan reformasi.seiring berjalannya waktu partisipasi politik pemuda perlu ditingkatkan kembali. Keberadaan partai politik lebih memberikan kesempatan bagi para pemuda untuk masuk ke arena kepemimpinan nasional, dan hal tersebut sebaiknya harus dipandang sebagai sebuah peluang bagi pemuda
Partisipasi politik pemuda sangat diperlukan agar kemunculan pemuda, dalam keterlibatan politik tidak hanya dengan bermodalkan pembaharuan secara fisik ataupun umur. Namun pandangan segar kaum muda yang terealisasikan oleh visi dan misi kepemimpinannya, juga harus menunjukkan semangat perubahan. dengan mengoptimalkan kemunculan kaum muda dalam politik, dan dibarengi oleh sebuah semangat perubahan yang diusung, efektifitas sistem multi partai yang merupakan realitas di Indonesia akan secara utuh terwujud, keadaan tersebut secara umum telah menunjukkan bagaimana peran pemuda sebagai salah satu faktor, yang berpengaruh dalam kehidupan politik di Indonesia.

“Langkah partisipasi politik oleh pemuda di Indonesia merupakan sebuah urgensi yang harus benar-benar terealisasi,”

PEMILIHAN Umum 2014 masih sekitar satu beberapa bulan lagi, namun hiruk pikuknya mulai terasa sangat gencar. Beberapa partai politik, baik yang baru didirikan maupun yang sudah lama ada akan bersaing untuk memperebutkan dukungan masyarakat, termasuk salah satunya pemuda. Hampir setiap kegiatan pemilu, peran pemuda cukup mendominasi, bahkan ada yang melampaui 90 persen dari keseluruhan masa yang hadir dalam kampanye. Ketika juru kampanye meneriakan yel ataupun jargon parpolnya, sambutan pemuda tampak begitu semarak sekali. Tak dapat dipungkiri, dukungan pemuda dalam setiap pemilu tak pernah surut. Tidak saja di Indonesia, di setiap Negara manapun partisipasi pemuda dalam pemilu selalu dominan. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah animo pemuda terhadap politik ini dikarenakan hati nuraninya atau ada hal lain, seperti ikut-ikutan saja?

Sejak era sebelum kemerdekaan, pasca kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, sampai Orde Reformasi partisipasi pemuda dalam menyuarakan demokrasi itu tak diragukan lagi. Sumpah pemuda yang dikumandangkan 1928, proklamasi kemerdekaan 1945, dan reformasi 1998, menunjukkan bahwa peran pemuda dalam kebangkitan bangsa memang begitu dominan dan strategis. Ini dikarenakan pada masa ini (pemuda), punya kekuatan otot dan otak yang kuat. Kata kasarnya apapun bisa dilakukan oleh pemuda. Seperti kata Ir.Soekarno, berikan saya sepuluh orang pemuda, maka akan ku goncang dunia ini.
Pemilu bukan hanya merupakan ajang pesta demokrasi rakyat, yang digelar setiap lima tahun sekali. Tentu saja banyak pemuda yang untuk pertama-kalinya memiliki hak pilih. Lantas, ke Parpol manakah sebagian besar pemuda menyalurkan aspirasinya.  hal inilah yang perlu digarap secara cermat oleh setiap Parpol. Jumlah suara pemuda itu puluhan juta, tentu saja diperlukan perlakuan khusus untuk mendekati kalangan pemuda.
Dalam massa kampanye yang berlangsung beberapa pekan, tentu saja setiap Parpol akan beradu jurus atau strategi untuk memperoleh dukungan pemuda. Ada yang memasang jurus klasik, umpamanya dengan penawaran program yang menyangkut kepentingan pemuda. Ada juga Parpol yang mendekati pemuda dengan menggunakan jurus yang berbau psikologis, artinya apa yang menjadi minat dan kecenderungan pemuda lantas disajikan selama masa kampanye. Tak heran menjelang Pemilu 2014 beragam kecanggihan teknologi informasi akan dimanfaatkan Parpol, misalnya situs jejaring sosial.
Karena pemuda cenderung lebih suka hiburan, hura-hura dan kumpul-kumpul, maka berbagai hiburan pun digelar, mulai dari menampilkan music rock, dangdut, pop, hingga berupaya menampilkan selebritis idola kaula muda. Beberapa selebritis yang berhasil masuk parlemen terutama karena dukungan pemuda.

Tak dapat dipungkiri, bahwa dengan cara menampilkan selebritis terkenal, dengan sendirinya jumlah masa kampanye akan membludak atau terus bertambah, terutama kalangan pemilih berusia muda. Bagi Parpol yang kantungnya tebal, upaya mendatangkan selebritis memang tidak sulit, berapapun honornya mampu membayarnya. Namun bagi Parpol dengan kantung pas-pasan memang cukup sulit untuk menampilkan artis dalam kegiatan kampanye, kecuali jika sang artis dengan suka rela dan ikhlas mendukungnya.



Sebagai gambaran yang menujukkan betapa efektifnya unsur hiburan dalam mengumpulkan massa, umpamanya pada Pemilu 1982 lalu, dalam suatu kampanye di Jakarta, sebuah Parpol bisa menghadirkan satu juta massa, terutama karena kehadiran Rhoma Irama beserta Grup Soneta yang saat itu mencapai puncak kejayaan. Sebagian besar dari massa yang hadir, tentu saja dari kalangan pemuda. Dalam Pemilu 2014 Parpol yang sanggup mendatangkan komedian Sule atau Tukul dalam kampanyenya sudah bisa diduga akan kebanjiran masa. Persoalannya apakah 2014 keduanya masih eksis, atau mungkin sudah tergeser selebritis lain.
Pemuda memang identik dengan gairah, semangat, demokrasi dan keterbukaan. Pemuda tak menyukai segala sesuatu yang loyo dan muluk-muluk, pemuda memang amat menyukai realita. Dengan demikian, salah satu cara untuk meraih dukungan pemuda dalam Pemilu 2014 ialah dengan menawarkan keterbukaan, program yang tidak muluk-muluk serta realistis. Dalam setiap acara kampanye, gairah pemuda seperti terbakar dan makin bergelora. Dalam setiap kampanye ketergantungan Parpol terhadap kalangan pemuda begitu tinggi, karena sebagian besar dari massa yang hadir memang para pemuda. Sudah sewajarkan keikutsertaan pemuda tidak disia-siakan, apalagi jika ditanamkan perasaan sentimen atau prasangka yang buruk terhadap Parpol lain, hingga dikhawatirkan menimbulkan perpecahan antar pemuda.




C.  Tujuan Penulisan

Dari Rumusan Masalah di atas dapat ditarik Tujuan Penulisan yang relevan, sebagai berikut:

·         Untuk mengetahui realitas partisipasi politik pemuda dalam sistem multi partai.
·         Untuk mendeskripsikan peran generasi muda dalam perpolitikan Indonesia.
·         Untuk mengetahui antusias pemuda saat PEMILU.
·         Mengukur keterlibatan pemuda terhadap partisipasi politik.



D.    Kesimpulan
Partisipasi politik pemuda sangat diperlukan agar kemunculan pemuda dalam keterlibatan politik tidak hanya dengan bermodalkan pembaharuan secara fisik ataupun umur, namun pandangan segar kaum muda yang terefleksikan oleh visi dan misi kepemimpinannya juga harus menunjukkan semangat perubahan. Dengan mengoptimalkan kemunculan kaum muda dalam politik, serta dibarengi oleh sebuah semangat perubahan yang diusung, efektifitas sistem multi partai yang merupakan realitas di Indonesia akan secara utuh terwujud.




E.     Saran
Dari analisa permasalahan di atas, maka saran-saran yang dapat penulis ajukan adalah :
Peran pemuda dalam keikutsertaan dalam politik seyogyanya menjadi urgensi dalam upaya mereduksi realita keterlibatan aktif pemuda dalam politik dewasa ini. Pengaturan yuriidis mengenai batas minimum keikutsertaan dan keterlibatan pemuda seyogyanya dapat dijadikan sebuah alternatif solusi dalam menstimulan kemunculan pemuda yang sebenar-benarnya dalam aktivitas politik di Indonesia,  Keterlibatan pemuda dalam aktivitas politik secara menyeluruh, seyogyanya tidak lagi hanya berupa simbol regenerasi secara umur dan fisik, namun harus menyentuh terhadap kemunculan gagasan ideologis pemuda secara utuh.
Kampanye pada PEMILU 2014 diharapkan harus dijadikan ajang untuk mendidik dan memberikan pengalaman bagi para pemuda, sama sekali bukan untuk memecah belah kekompakan pemuda. Selayaknya di antara Parpol terjadi kerjasama dan kekompakan, terutama untuk menggelar pesta demokrasi yang bersih, termasuk menumbuhkembangkan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi kalangan pemuda. Jangan sampai peran pemuda dalam pemilu hanya ikut-ikutan saja. Untuk para politisi senior, berikanlah contoh terbaik bagi para pemuda.




F.  PENUTUP
Kaum Pemuda memiliki kesempatan yang besar untuk meningkatkan partisipasi politiknya. Dengan kemunculan sosok pemuda yang memiliki ideologi jelas yang meliputi sistem politik, demokrasi sosial dan ekonomi pasar sosial dan hal tersebut dapat terjawantahkan secara konsisten, diharapkan akan tercipta sebuah efektivitas sistem multi partai yang merupakan sebuah realitas di Indonesia. Keterlibatan Pemuda pada PEMILU 2014 secara progresif merupakan perwujudan dari upaya pembangunan semangat kebangsaan yang berlandas kepada cita bangsa secara utuh menuju masa depan Indonesia yang membanggakan.





DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Partisipasi Politik. Dalam www.wikipedia.com
Fanar Syukri. 2008. Peran Pemuda dalam 20 Tahunan Siklus Nasionalisme Indonesia dalam http://www.ppi-jepang.com.
Partono. 2008. Sistem Multi Partai, Presidensial Dan Persoalan Efektivitas
Pemerintahan. Dalam www.legalitas.org
Fadjroel Rachman. Presiden Kaum Muda 2009. dalam http://www.fadjroelrachman.com
Anonim. Indonesia Butuh Kaum Muda Beridiologi dalam www.antara.com
Umar badarsyah. Pemimpin Muda Harapan yang Tertunda dalam http://www.umarbadarsyah.com
www.google.com : partis pmud\getcontent.php.htm
www.google.com
www.Wikipedia.com